Rabu, 20 Maret 2013

Profil Transedental Meditation di Indonesia

Pengertian Transenden Meditasi (TM)

Semadi atau meditasi adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari. Makna harfiah meditasi adalah kegiatan mengunyah-unyah atau membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, merenungkan. Artinya meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktutertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup dan prilaku.

Dengan kata lain, meditasi melepaskan kita dari penderitaan pemikiran baik dan buruk yang sangat subjektif yang secara proporsional berhubungan langsung dengan kelekatan kita terhadap pikiran dan penilaian tertentu. Kita mulai paham bahwa hidup merupakan serangkaian pemikiran, penilaian, dan pelepasan subjektif yang tiada habisnya yang secara intuitif mulai kita lepaskan.Dalam keadaan pikiran yang bebas dari aktivitas berpikir, ternyata manusia tidak mati, tidak juga pingsan, dan tetap sadar. 

Transenden yang berarti “melampaui, di luar segala kesanggupan manusia, luarbiasa”, pada umumnya dalam arti“ melampaui alam ciptaan atau tidak terbatas”. Tuhan adalah realitas transenden, karena Tuhan itu mutlak dan yang mutlak merupakan realitas transenden. 

Manusia dalam seluruh kehidupan rohani, dibatasi pada kemampuan untuk membuat pernyataan, selalu mengacu pada yang mutlak, bahwa yang mutlak itu tidak kosong, melainkan sebuah realitas karena apabila acuan pada yang mutlak menjadi dasar kemungkinan untuk menyatakan keberadaan dari sesuatu apapun, acuan itu harus nyata. Jadi yang mutlak itu satu dan transenden yaitu Tuhan. 

Kita bisa mengalami transenden karena dalam diri manusia menytakan sesuatu, memilih sesuatu, merasakan suatu makna dan mendengar suara hati kitanyata-nyata mengacu pada sesuatu yang melampaui segala realitas dunia pengalaman kita yang tidak terbatas. 

Sedangkan Meditasi adalah upaya untuk meninggalkan diri dan segala keterbatasan serta secara terus-menerus mengarahkan hati kepada sang pencipta. 

Transenden Meditation adalah Meditasi yang bertujuan menjadi jalan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta (yang transenden).

Transenden Meditation, merupakan salah satu cara relaksasi mental danfisik, menghilangkan stress dan realisasi diri berupa yoga, diperkenalkan di India pada tahun 1955 oleh Maharishi Mahesh Yogi. Transenden Meditation adalah praktek berbasis Hindu yang berpura-pura menjadi ilmu. Maharishi awalnya diperkenalkan TM sebagai agama dalam bukunya, Ilmu dan Seni Menjadi Hidup. 

Diterbitkan pada tahun 1963. Kemudian TM diakui sebagai ilmiah "The Science of Creative Intelligence," menggantikan "kecerdasan kreatif" istilah untuk "Menjadi" (atau Brahman). Realisasi diri dating dengan menyadari sifat terdalam seseorang sebagai identitas dengan Menjadi (atau Brahman). 

Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosial-spiritual. Sebagai makhluk biologis yang terdiri dari sel-sel yang membentuk organ-organ, ia akan berkembang menjadi makhluk organismik yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Sedangkan sebagai makhluk spiritual, manusia tidak hanya berhubungan dengan orang lain dalam sistem masyarakat atau dunia, namun ia juga berhubungan dengan Sang Pencipta. la mengakui bahwa ada suatu kekuatan di luar dirinya yang banyak mempengaruhi kehidupannya. Setelah berbagai usaha ia lakukan dan menemui kegagalan, maka ia akan menyerahkan dirinya pada kekuatan ini. Selain itu spiritualitas dalam diri manusia diwujudkan dalam bentuk rasa kasihnya terhadap sesama. Sifatnya yang altruistik yaitu keinginannya untuk memberikan apa yang dipunyainya untuk orang lain adalah suatu tanda adanya spiritualitas tersebut (Prawitasari, 1995). 

Guru terbaik untuk meditasi adalah pengalaman. Tidak ada guru, seminar, atau buku-buku meditasi yang dapat mengajarkan secara pasti bagaimana seharusnya kita melakukan hidup bermeditasi. Setiap orang dapat secara bebas memberikan nilai-nilai tersendiri tentang arti meditasi bagi kehidupannya. Oleh karena hanya dengan mempraktekkan semadi dalam hidup, orang bisa merasakan manfaat suatu perjalanan semadi. Ada banyak arti tentang semadi, di antaranya adalah: 
1. Jalan untuk masuk dalam kesadaran jiwa. 
2. Jalan untuk introspeksi diri 
3. Jalan untuk berkomunikasi dengan sang pencipta. 
4. Jalan untuk mengubah hidup. 
5. Jalan untuk meraih ketenangan batin. 


Yayasan yang menggunakan unsur meditasi 

Yayasan Kriya Semesta 

Didirikan di kota bandung pada tanggal 29 April 2002 oleh dua orang master reiki dan beberapa orang praktisi Reiki yaitu: Rahadian Susila RM, Akbar Kuspriadi 

Sekira 2004-2005 Yakrita menyelenggarakan pelayanan sosial , berupa pengobatan umum bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya, di jl. Malabar no. 10 B Bandung, kemudian di beberapa tempat di Bandung, garut dan sekitarnya. 

Pada awal bulan Oktober 2005, atas izin Tuhan YME, Krita telah mengadakan kesepakatan untuk menyelenggarakan suatu acara dengan STV Bandung,

Setelah Idul fitri 2006 Krita bekerjasama dengan Radio Antares Garut, melenggarakan acara Reiki On Air dan Pelayanan pengobatan bagi pendengar antares dan masyarakat sekitar.Disamping itu Krita sempat pula menyelenggarakan acara pengobatan massal on air bersama Radio Zora Bandung dan sempat pula diundang di acara Gerakan Hidup Sehat PT.Pos

Setelah itu Krita membuka Unit Latihan di PT NTP (Nusantara Turbin dan Propulsi ) yang hingga saat ini beranggotakan 36 siswa, dan menyusul setelahnya membuka unit latihan yang beranggotakan karyawan-staff hingga para pimpinan PT.Kimia Farma Plant yang saat ini beranggotakan lebih dari 10 orang

Kegiatan Pelatihan Rutin Reiki bagi intern Yayasan di laksanakan di jl.Golf Barat IV no 15 Arcamanik Bandung.

Selintas perkembangan keilmuan di komunitas Kriya Semesta

Pada awal perkembangannya Yayasan Kriya Semesta memfokuskan pengajarannya pada Reiki tradisi Usui (Reiki tradisi Jepang.Untuk melengkapi berbagai kekurangan yang ada , para master di Yakrita mempelajari beberapa aliran eksoteris lain , seperti :Reiki Tibetan Gtumo, Dtumo, Kundalini Dharma Yoga, Kundalini O Tara, Reiki Sufi, beberapa tradisi tarekat-sufisi dan lain sebagainya, beberapa diantaranya bahkan hingga tingkatan Master pengajar.

Dari berbagai diskusi transspiritual, dan berbagai eksperimen yang sering diselenggarakan di sekretariat, Para Master di Yakrita mengembangkan beberapa sistem keilmuan baru antara lain : Usui Reiki Advance, Kundalini sabda spiritual System , Ki-Kahuripan, Energi Pangreksa (spiritual Reki) yang kemudian berkembang menjadi Kesadaran Semesta.yang terpenting adalah , dari sistem keilmuan yang terus dikembangkan ini, yakrita berharap agar, segala manfaat dari berbagai keilmuan tersebut dapat dirasakan oleh umat manusia , dan semoga semakin terkuaklah segala khazanah keilmuan Ilahi yang semakin membuktikan keberadaan diriNya , dan semakin mendekatkan diri kita pada Yang Maha Tahu.Saat ini, Kriya Semesta mengembangkan KESADARAN SEMESTA sebuah konsep keilmuan spiritual dengan metode meditasi &kontemplasi yang lintas aliran.




Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Semadi
http://kriyasemestafoundation.blogspot.com/2009_03_01_archive.html





Selasa, 19 Maret 2013

Pengalaman Spiritual

Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan denga dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik, atau kematian. Kekuatan yang timbul dari kekuatan manusia.(Dalam buku Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa, Prof.Achir Yani S. Hamid, MN, DNSc, Penertbit buku Kedokteran,Jakarta, 2008,hal.2)

Ketika manusia mengalami orgasme maka ia akan mati sejenak dan jantungnya berhenti berdegup. Ini benar. Sains membuktikan. Kemudian kekuatan orgasme mampu menyalakan 10 lampu lebih karena energinya yang besar. Itulah kehidupan. Dari orgasme itulah kebahagiaan terjemput. Bahkan Osho mengatakan bahwa pengalaman spiritual bisa didapat karenanya. Di buku Danah Zohar  (SQ) ada juga penyebab munculnya pengalaman spiritual karena coitus ekstasi. Pengalaman spiritual kaitannya dengan kebermaknaan hidup, yaitu barang siapa mendapatkan pengalaman spiritual dan mampu mengatasinya maka bermaknalah hidupnya.(Dalam buku Taman Sunyi Sekali, Aida Vyasa,Tiga serangkai,Solo,2006,hal 104)    

Penulis menuliskan beberapa petikan kalimat yang ada di dalam buku Aku beriman, maka Aku Bertanya yang berisikan: 
Memandang shalat terutama sebagai jalan untuk menggapai jaminannya dan pengalaman mistik berarti memahami Allah sebagai pelayanku dan makanya menyalahi fungsi pokok sholat.
Aku tentu saja mengaca diri untuk mengetahui apakah aku telah kehilangan kekhusyukan dalam sholatku, atau telah berbuat dosa, atau mengalami kemunduran iman. Adakalanya aku merasa memang itulah yang terjadi padaku, dan kemudian aku berusaha mengoreksi diri, tetapi kupikir kadang-kadang Allah sengaja membiarkanku begitu saja. Sehingga, aku terus berusaha menjalankan ritual-ritual Islam dengan tekun, memperbaiki diri, memetik banyak hikmah sholat dan menyerahkan urusan pengalaman spiritual kepada Allah, pemilik segala sesuatu. Aku berfikir bahwa sekalipun tak pernak merasakan pengalaman spiritual lagi dalam sisa hidupku, aku akan selalu bersyukur atas pengalaman-pengalaman spiritual yang sudah kutemui dan atas semua yang telah Allah karuniakan kepadaku. Pengalaman-pengalamanku yang paling dahsyat terjadi pada masa awal ketika aku baru menjadi muslim. Sungguh bodoh bila aku coba menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual ini, tetapi aku benar-benar yakin bahwa diriku takan bisa melewati masa-masa sulit tanpa kasih sayang Allah. Meskipun sepenuhnya percaya pada wahyu Al-Quran dan kenabian Muhammad, aku mungkin telah murtad jika tak mendapat dukungannya. Aku tak meragukan Islam, tetapi meragukan diriku sendiri. Aku tak yakin sanggup menghentikan perbuatan-perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaanku, dan aku berkali-kali merasa seperti lari komunitas alih-alih bersikap munafik di dalamnya. Namun, momen-momen saat aku menerima limpahan rahmatNya itu mengilhami untuk tetap tekun beribadah. Dengan perkataan lain, aku merasakan momen-momen spiritual ini lebih bertalian dengan kasih sayang Allah dan kekuranganku ketimbang yang lainnya.      

Dan dalam buku Mengapai Impian penulis mengutip beberapa kalimat yang berisikan:
Rumi mengagumi matahari. Baginya matahari merupakan simbol keagungan Tuhan. Dia mengibaratkan dirinya laksana partikel debu yang berpendar mengelilingi sebuah titik. Titik itulah Tuhan, realitas eksistensial yang abadi dan yang tidak membutuhkan segala sesuatu. Dialah Sang Kekasih Sejati. Ketika bertemu Rumi menari-nari girang sambil bersenandung:

Sang kekasih memancarkan cahaya bak matahari
Laksana atom, para pecinta beredar mengelilinginya
Saat angin musim semi cinta mulai berhembus
Setiap ranting basah mengikuti matahari


Tarian Darwisy-sebuah tarian yang melambangkan spiritual cinta dengan gerakan meliuk-liuk disertai kegirangan yang meluap-luap tentu tidak mudah ditatap dengan nalar rasional. Nalar tak mungkin sanggup menembus relung-relung yang terdalam dan bergejolak. Pencarian nalar akan berakhir dengan kekandasan, nihil, dan boleh jadi kegilaan. Dunia spiritual adalah sebuah pengalaman yang sangat personal dan misterius. Maka alternatif yang memungkinkan adalah melompat kedunia lain, dunia rasa, ruang imajinasi, ruang intuisi, atau ruang hayal guna menembus realitas yang tak terbatas, tempat segala misteri irasional tersingkap.






Sumber: 
Buku Taman Sunyi Sekali, Aida Vyasa,Tiga serangkai,Solo,2006,hal 104
Buku Aku Beriman maka Aku Bertanya, Jeffrey Lang, Serambi, Jakarta,2006, hal.300-301.
Buku Mengapai Impian, Masriyah Amva,Kompas, Jakarta, 2010

Agama dan Psikologi Transpersonal

A. Agama
Dalam masyarakat Indonesia selain kata agama, dikenal pula kata Din berasal dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa, sedang kata agama berasal dari bahasa Sanskrit.
Dalam kamus An English Reader's Dictionary,A.S Homby dan Parnwell (1986) mengartikan religi sebagai berikut:

  • Belief in God as creator and control, of the universe (percaya kepada Tuhan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta).
  • System of faith and worship based on such belief (Sistem iman dan penyembahan didasarkan atas kepercayaan tertentu).
Drs. Sidi Gazalba(1991) mendefinisikan Agama adalah kepercayaan pada hubungan manusia dengan yang Kudus, dihayati dengan hakikat yang ghaib, hubungan yang menyatakan diri dalam bentuk serta sistem kultus  dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.


Kata Agama dalam bahasa Arab dan dalam Al-Qur'an disebut Din' yang diulang sebanyak 92 kali. Menurut asal usul kata (etimologi) mengandung pengertian menguasai, ketaatan dan balasan. Sedangkan menurut istilah atau terminologi din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, hukuum dan norma yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.

Dari rumusan dan definisi diatas, dapat disimpulkan pengertian agama itu meliputi tiga sistem penting, yaitu:
1. Suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan
2. Suatu sistem penyembahan kepada Tuhan 
3. Suatu sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal) dan hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal).

B. Psikologi Transpersonal
Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateau, dan farthest reaches of human nature. Oleh karena itu, psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal.

Atas segala kritiknya terhadap angkatan-angkatan sebelumnya , psikologi transpersonal hanyalah kelanjutan dari psikologi humanistis, yang pada gilirannya melanjutkan pemikiran Junk dan Frankl. kita juga harus menyebut William James, yang dalam beberapa hal mempengaruhi pemikiran Jung. Psikologi tranpersonal berusaha menggabungkan tradisi psikologis dengan tradisi agama-agama besar di dunia. Dia ingin mengambil pelajaran dari kearifan perenial-philosophia perennis.

C. Hubungan Agama dan Psikologi Transpersonal

Psikologi transpersonal secara langsung atau tidak berkaitan dengan perhatian yang diberikan oleh tradisi-tradisi mistik, dan psikologi transpersonal bekerja dengan sistem-sistem konseptual yang dimaksudkan untuk menjembatani dan mengintegrasikan psikologi dengan pencarian spiritual.

Psikologi transpersonal, seperti juga psikologi humanistik menaruh perhatian kepada potensi spiritual manusia yang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa yang sejauh ini tak mampu ditembus oleh aliran psikologi yang lain.

Yang membedakan antara psikologi transpersonal dengan psikologi humanistik adalah psikologi humanistik lebih menenkankan penggunaan potensi ini sebagai sarana untuk peningkatan hubungan antarmanusia, sedangkan psikologi transpersonal lebih menekankan penggunaannya sebagai pengalaman pribadi atau subjektif transedental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini. 

Psikologi ini menandai "pertemuan" psikologi dengan agama yang selama ini dianggap sebagai hal yang terpisah. Barangkali inilah sumbangan terbesar yang diberikan oleh psikologi transpersonal bagi peradaban umat manusia.

Dalam "dunia" Islam kita juga dapat melihat bahwa ritual-ritual agama yang nota bene menjadi objek telaah psikologi ini juga mempunyai semacam energi untuk membantu kita mengurangi atau mengelola stres yang dianugerahkan Allah kepada kita.  





Sumber: 
Buku Pendidikan Agama Islam, Wahyudin Achmad, M.Ilyas, M. Saifulloh, Z. Muhibbin, Grafindo, Surabaya, 2009, hal.12-13.  
Buku SQ Kecerdasan Spiritual, Danah Zohar dan Ian Marshall, Mizan Media Utama, Bandung.
Buku Metode Supernol Menaklukan Stres, Mustamir Pedak, hikamh, hal.31.

Alfred States of Counselousness

Altered states of conciousness (ASC) adalah suatu kesadaran yang berubah atau yang berbeda dengan kesadaran orang dalam keadaan normal. Konsep ini sekarang banyak dibicarakan dalam psikologi transpersonal. Sebenarnya masalah kesadaran yang berbeda dengan kesadaran dengan orang normal sudah dibicarakan dalam psikologi. Tetapi pada umumnya mereka hanya menaruh perhatian pada terhadap kesadaran yang “abnormal” saja, yaitu: kesadaran orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Sedangkan kesadaran yang “supernormal”, yaitu kesadaran yang umumnya di miliki oleh orang-orang yang memiliki wawasan spiritual atau memiliki tingkat kerohanian yang tinggi, seperti cosmic conciousness (kesadaran jagat raya) atau mystical conciousness (kesadaran mistik) tampaknya belum pernah atau jarang dibicarakan. Bahkan ada sementara tokoh yang justru menganggap kesadaran yang timbul pada orang-orang yang memiliki kerohanian yang tinggi itu sama saja dengan kesadaran orang yang mengalami gangguan. Karena kedua bentuk kesadaran ini memang memiliki ciri-ciri yang sama, meskipun secara esensial keduanya jauh berbeda. Kesadaran ”abnormal” pada umumnya bersifat negatif, sedangkan kesadaran ”supernormal” bersifat positif. Ciri-ciri dari pengalaman ASC antara lain ditandai dengan:

1. Adanya adanya perubahan dalam fungsi kognitif/pikiran;
2. Perubahan dalm suasana hati;
3. Perubahan dalam persepsi atau cara memandang dunia luar;
4. Perubahan dalam persepsi atau kesadaran diri; 
5. Perubahan perasaan tentang waktu; 6. Perubahan fungsi panca indera.

Untuk membimbing seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) masuk ke kondisi ASC melibatkan dua operasi dasar induksi berikut:

Pertama kita menggunakan disrupting force atau daya pengguncang pada b-SoC berupa tindakan psikologis atau fisiologis yang mengguncang proses stabilisasi, baik dengan mengintervensi atau dengan menarik perhatian,fokus, atau energi dari proses stabilisasi. Jika induksi ini berhasil maka daya pengguncang akan mendesak berbagai struktur atau subsistem ke ambang batas kestabilan fungsi dan selanjutnya melampaui batas ini dan dengan demikian merontokkan integritas sistem dan mengguncang kestabilan b-SoC sebagai suatu sistem. Setelah itu dilanjutkan dengan Ö. 
Di tahap kedua proses induksi kita menggunakan patterning forces atau daya pembentuk pola selama masa transisi baik berupa tindakan psikis dan atau fisik dengan tujuan membentuk pola stuktur atau subsistem menjadi suatu sistem baru, yaitu ASC yang diinginkan. Selanjutnya sistem baru ASC harus membangun proses stabilisasiya sendiri jika ingin bisa bertahan. 

De-induksi, proses membawa subjek keluar dari ASC kembali ke b-SoC, sama dengan proses induksi. Dalam hal ini disrupting force digunakan untuk mengguncang kestabilan ASC sehingga terjadi periode transisi dan selanjutnya b-SoC direkonstruksi dengan menggunakan patterning force.

Operasi Induksi: Guncang (Disruption) dan Pembentukan Pola (Patterning)

Operasi induksi yang pertama adalah mengguncang kestabilan b-SoC, mengganggu proses loading, positive dan negative feedback, dan limiting stabilization yang menjaga struktur psikologis beroperasi dalam rentang normal.

Dengan demikian, dalam operasi awal, untuk menghasilkan ASC, perlu dilakukan guncangan pada proses stabilisasi hingga satu titik di mana pola kesadaran normal tidak dapat lagi bertahan. Jika, misalnya, guncangan hanya dilakukan pada satu atau beberapa proses stabilisasi maka proses stabilisasi lainnya akan tetap mempertahankan keutuhan dan integritas sistem sehingga induksi yang dilakukan tidak menghasilkan ASC.

Proses stabilisasi dapat diguncang secara langsung bila mereka dapat dikenali, atau bisa dengan cara tidak langsung yaitu mendorong fungsi psikologis tertentu melampui batas fungsinya sehingga menjadi tidak stabil. Subsistem ini, misalnya, dapat diguncang dengan cara membanjirinya dengan stimuli, menghambat stimuli sehingga tidak mencapai subsistem sehingga subsistem kehilangan stimuli, atau memberikan susbsitem stimuli yang ìanehî yang tidak dapat diproses dengan cara biasa.

Selain cara di atas, untuk mengguncang proses stabilisasi fungsi b-SoC dapat juga menggunakan obat. Demikian pula setiap prosedur yang melibatkan fungsi fisiologis secara intens seperti kondisi kelelahan yang parah atau olahraga.

Operasi induksi yang kedua adalah menerapkan daya pembentuk pola, stimuli yang selanjutnya mendorong fungsi psikologis yang telah goyah menuju pola baru yang diinginkan yaitu ASC.

Sekarang mari kita lihat tiga contoh induksi untuk menghasilkan ASC, semua diawali dari kondisi sadar normal (b-SoC): proses masuk kondisi tidur, induksi hipnosis, dan praktik meditasi.

Masuk ke Kondisi Tidur

Proses masuk ke kondisi tidur biasanya diawali dengan kita berbaring dalam ruangan yang tenang dengan penerangan yang redup, selanjutnya menutup mata, dan menjadi rileks, tenang, nyaman. Hal ini serta merta menghilangkan sangat banyak loading stabilization yang membantu menjaga kondisi kesadaran normal (bangun).

Dalam kondisi yang tenang ini hanya ada sedikit stimuli yang diterima pikiran sehingga tidak dibutuhkan energi untuk memproses stimuli ini. Energi psikis lainnya, yang tidak terpakai, menjadi bebas. Sebagian dari energi yang terbebas ini ada yang beralih fungsi menjadi energi yang meningkatkan imajinasi atau bentuk-bentuk pikiran. Dengan semakin berkurangnya energi yang dibutuhkan untuk memproses stimuli dari lingkungan maka loading stabilization menjadi semakin lemah dalam menjaga kondisi kesadaran normal.

Berbaring dan rileks menghilangkan sumber loading stabilization utama lainnya yaitu input sensori yang berasal dari tubuh. Dalam kondisi ini input dari tubuh sangat minim. Dalam kondisi ini orang umumnya akan mengambil sikap bahwa tidak ada yang perlu dikerjakan, tidak ada goal yang perlu dicapai, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan. Sikap ini mengakibatkan pola yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal menjadi lemah, semakin lemah, dan akhirnya luruh dengan sendirinya. Dengan demikian kita masuk ke kondisi tubuh dan pikiran yang pasif, rileks, dan nyaman.

Kondisi pasif ini bila berlanjut akan menarik keluar energi perhatian/kesadaran dari proses feedback stabilization. Tanpa adanya hal yang harus diperhatikan atau dijaga maka tidak ada kebutuhan untuk mengawasi dan mengkoreksi penyimpangan fungsi. Dengan demikian pikiran akan masuk ke kondisi yang lebih rileks lagi yang disebut dengan kondisi hypnagogic dan selanjutnya masuk ke kondisi tidur.

Masuk ke Kondisi Hipnosis

Ada sangat banyak cara atau prosedur untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis. Namun bila diperhatikan dengan saksama, semua prosedur ini mengikuti pola umum yang mirip atau sama. Langkah pertama, biasanya, adalah dengan meminta subjek untuk duduk atau berbaring di kursi dengan nyaman. Hal ini bertujuan agar subjek tidak perlu melakukan upaya apapun untuk mempertahankan posisi tubuhnya. Seluruh tubuh subjek, mulai dari kaki hingga kepala, tersangga dengan baik oleh kursi sehingga terasa sangat nyaman. Subjek juga diminta untuk pasrah dan merilekskan tubuhnya serileks mungkin.

Langkah ini mengakibatkan beberapa efek. Pertama, jika subjek merasa cemas, yang mana perasaan cemas ini tampak dalam bentuk ketegangan di tubuh, maka dengan merilekskan tubuhnya, perasaan cemas ini menjadi banyak berkurang. Dengan mengurangi dan membatasi kecemasan dalam diri subjek akan memudahkan subjek untuk masuk ke kondisi ASC, dalam hal ini kondisi hipnosis.

Saat tubuh rileks dan diam maka jumlah stimuli yang tadinya diterima oleh reseptor gerak yang ada di sekujur tubuh menjadi sangat berkurang, mirip dengan kondisi saat akan tidur. Dengan demikian keseluruhan tubuh mulai kehilangan kesadaran dan larut dalam keadaan rileks dan berakibat pada hilangnya loading stabilization dan patterning force yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal (b-SoC).

Langkah kedua, operator (hipnotis/hipnoterapis) meminta subjek untuk fokus pada suara si operator dan mengabaikan bentuk pikiran atau sensasi yang masuk ke pikiran subjek. Dalam kondisi normal pikiran subjek akan aktif melakukan scanning memperhatikan kondisi dan situasi di lingkungannya guna menemukan stimuli yang penting di sekitarnya.

Upaya scanning terus menerus ini membuat berbagai subsistem aktif dan saling bertukar informasi dan energi sehingga subsistem cenderung terjaga dalam kondisi pola kesadaran normal (terjaga/bangun). Dengan menarik energi perhatian/kesadaran dari tindakan memindai lingkungan subjek menarik sejumlah besar energi psikis dan menghentikan aktivitas pada sejumlah subsistem dan mengakibatkan proses loading dan patterning terganggu dan menjadi lemah.

Langkah ketiga, operator biasanya akan meminta subjek untuk tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan oleh operator namun cukup hanya mendengar secara pasif dan mengijinkan apa yang diucapkan operator dengan mudah terjadi, dialami, dan dirasakan oleh subjek. Dalam kondisi kesadaran normal subjek cenderung akan terus berpikir, melakukan analisis atas apa yang ia dengar atau rasakan. Dengan meminta subjek untuk tidak berpikir dan pasrah menjalankan bimbingan operator maka hal ini mengakibatkan loading stabilization menjadi lemah sehingga subjek mudah dibimbing masuk ke kondisi hipnosis (ASC).

Langkah keempat, subjek biasa diminta untuk memusatkan perhatian pada satu objek tertentu, di samping suara operator, misalnya satu titik di tembok, cincin yang dipakai operator, api lilin, pendulum, hypnotic disc, dan sejenisnya. Pemusatan perhatian ini bertujuan untuk semakin mengurangi scanning pikiran terhadap lingkungan dengan tujuan seperti yang telah dijelaskan di atas.

Langkah kelima, operator umumnya akan mensugestikan subjek merasa semakin rileks, semakin mengatuk, mata terasa semakin berat. Sugesti ini membangkitkan berbagai memori yang berhubungan dengan kondisi mengantuk dan atau rileks dan ini membantu proses induksi karena mengantuk atau mata terasa berat berarti b-SoC mulai goyah. Sugesti ini berfungsi mengguncang kestabilan b-SoC.

Langkah keenam, dalam memberikan sugesti untuk rileks, operator mengatakan bahwa subjek akan mengalami atau masuk ke dalam kondisi yang mirip dengan tidur namun bukan seperti tidur yang biasa dialami di malam hari, subjek tetap sadar dan bisa mendengar suara operator. Sugesti ini adalah patterning force yang spesifik.

Sugesti yang mengatakan bahwa apa yang dialami subjek mirip dengan tidur bertujuan mengguncang kestabilan b-SoC. Operator tidak ingin subjek tertidur dan untuk itu ia memberikan patterning force untuk menghasilkan kondisi pasif yang mirip seperti kondisi tidur namun subjek tetap bisa mendengar suaranya.

Ketujuh, saat subjek sudah pasif dan rileks, operator selanjutnya memberikan sugesti yang berhubungan dengan otot tubuh. Operator biasanya mensugestikan otot-otot di seluruh tubuh subjek terasa berat dan semakin berat, semakin rileks.


Demikianlah selanjutnya hingga subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) dan masuk ke kondisi hipnosis yang dalam (ASC).

Contoh di atas adalah prosedur yang bersifat progresif. Artinya perpindahan dari b-SoC ke ASC berlangsung gradual. Lalu, bagaimana dengan teknik shock induction atau induksi dengan menggunakan kejutan pada sistem saraf?

Sebenarnya secara prinsip sama saja. Shock induction dilakukan dengan cara secara tiba-tiba, di luar dugaan subjek, operator melakukan kejutan pada sistem saraf subjek. Kejutan ini bisa dalam bentuk secara mendadak menarik lengan, tangan, atau tubuh subjek. Intinya adalah kondisi kesadaran normal (b-SoC) secara tiba-tiba, dengan cara yang sangat dahsyat diguncang, dengan disrupting force, sehingga menjadi kacau, dan setelah itu langsung diberikan satu sugesti ìTidurî yang merupakan patterning force.

Saat kejutan dilakukan maka RAS (reticular activating system) akan terbuka sekitar ? sampai æ detik. Melalui celah yang sangat sempit inilah patterning force dimasukkan dengan nada yang tegas, pasti, dan bersifat sangat paternal dan subjek langsung masuk ke kondisi hipnosis (ASC) yang dalam. Namun bila kondisi ini tidak diperdalam atau dipertahankan, misalnya tidak dilakukan deepening, maka subjek dengan sendirinya akan keluar dari kondisi hipnosis (ASC).

Mengapa subjek bisa keluar sendiri? Karena proses stabilisasi lainnya, yang tidak terkena pengaruh guncangan shock induction, akan segera bekerja memulihkan dan mengembalikan kondisi kesadaran subjek ke kondisi sadar normal atau b-SoC.

Meditasi dan Kondisi Meditatif

Kita mengenal dua jenis meditasi. Pertama, Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang. Bagaimana proses seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal dan masuk ke dalam kondisi meditatif?

Samatha Bhavana dilakukan dengan memusatkan perhatian pada objek tertentu. Objek ini bisa berupa objek eskternal, seperti satu titik, cahaya lilin, atau objek meditasi lain, dan bisa juga objek internal seperti napas, atau naik turunnya perut saat bernapas.

Sama seperti dalam induksi hipnosis, meditator diminta untuk mempertahankan fokusnya pada objek yang telah dipilih. Bila pikirannya beralih fokus atau memikirkan hal lain maka meditator membawa kembali pikirannya, dengan lembut, untuk kembali fokus pada objek meditasi dan terus berupaya mempertahankan fokus ini.

Membawa kembali, dengan lembut, pikiran yang lepas atau beralih fokus untuk bisa kembali fokus pada objek meditasi adalah hal yang penting. Jika meditator memaksa atau membawa kembali fokusnya dengan buru-buru atau melawan gangguan yang muncul, maka hal ini justru mengirim sejumlah besar energi perhatian atau kesadaran pada gangguan ini dan membuat energi tetap mengalir di dalam sistem. Hal ini justru semakin menstabilkan kondisi kesadaran normal dan meditator tidak bisa masuk ke kondisi meditatif yang diinginkan.

Pemusatan perhatian pada objek sangat membatasi ragam input yang masuk ke sistem, menghambat proses berpikir, mencegah pikiran melakukan scanning pada lingkungan, dan secara umum mengurangi energi perhatian/kesadaran dan mengurangi aktivitas dari berbagai subsistem yang mempertahankan kondisi kesadaran normal.

Saat meditator memusatkan perhatiannya pada satu objek, baik internal maupun eksternal, akan menghasilkan fenomena yang tidak lazim yang disebabkan oleh kelelahan pada reseptor. Namun fenomena ini justru harus diabaikan karena akan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam proses meditasi.

Kebanyakan meditasi dilakukan dengan postur tubuh dalam posisi duduk tegak namun tetap nyaman, di mana tulang belakang, leher, dan kepala berada dalam satu garis lurus. Hanya dibutuhkan sedikit tenaga otot untuk mempertahankan posisi ini. Sama seperti posisi nyaman yang dialami oleh subjek hipnosis, postur tubuh yang nyaman dalam meditasi membuat berbagai reseptor kinestetik menjadi nonaktif dan mengakibatkan pudarnya citra tubuh.

Berbeda dengan proses masuk ke kondisi tidur, di mana seluruh tubuh sangat rileks dan tidak perlu ada upaya apapun untuk mempertahankan postur tubuh, dalam proses meditasi masih dibutuhkan sedikit energi otot untuk mempertahankan postur tubuh agar tetap tegak. Dengan demikian meditator, serileks apapun kondisinya, tidak akan masuk ke kondisi tidur. Bila sampai terjadi meditator tertidur maka ia tidak akan dapat mempertahankan posisi tubuhnya yang tegak dan akibatnya tubuhnya akan jatuh.

Saat meditator berhasil mencapai kondisi meditatif yang dalam (ASC) maka ia akan mengalami suatu kondisi yang disebut dengan ìvoidî, ìkosongî, ìheningî. Dalam kondisi ini semua fungsi psikologis, untuk sementara waktu, menjadi tidak berfungsi. Tetap ada kesadaran namun tidak ada objek kesadaran.

Banyak orang telah mencoba bermeditasi mengikuti petunjuk atau langkah tertentu. Mereka bukannya berhasil mencapai kondisi kesadaran tertentu (ASC) yang diinginkan namun yang didapat adalah tubuh yang lelah, sakit punggung, dan kaki yang kesemutan.

Duduk tegak dengan psotur yang benar dan mencoba melakukan teknik meditasi tertentu memang akan mengguncang beberapa proses feedback yang menstabilkan kesadaran normal (b-SoC) anda. Namun jika proses lainnya masih aktif, misalnya pikiran yang terus aktif, maka tidak akan pernah terjadi pergeseran kesadaran dari b-SoC ke ASC.

Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang dilakukan dengan postur tubuh yang sama dengan Samatha Bhavana. Dengan demikian semua pengaruh postur dalam mengguncang b-SoC seperti yang terjadi dalam samatha bhavana juga terjadi dalam vipassan bhavana.

Bedanya adalah dalam vipassana bhavana meditator menyadari sepenuhnya sensasi, perasaan, bentuk pikiran yang muncul. Meditator hanya menyadari sepenuhnya, tidak menerima, tidak menolak, tidak menganalisa, tidak memberi komentar atau penilaian, dan tidak mengidentifikasi.


Nonidentifikasi ini mencegah energi perhatian/kesadaran terperangkap dalam proses otomatis dan habitual dalam mempertahankan kesadaran normal (b-SoC). Dengan demikian, sementara kesadaran tetap terjaga, aktivitas berbagai subsistem psikologis perlahan tapi pasti mulai berkurang dan pudar sampai satu titik di mana, secara tiba-tiba, terjadi pergeseran kesadaran masuk ke kondisi meditatif yang dalam, yang ditandai dengan meningkatnya persepsi dan deotomatisasi subsistem Input-Processing.

Proses berpindahnya kesadaran meditator dari kesadaran normal (b-SoC) ke kondisi meditatif (ASC) sama dengan proses yang terjadi pada subjek hipnosis. Bedanya adalah bila meditator melakukan prosesnya sendiri sedangkan subjek hipnosis dibantu oleh operator.






Sumber:
http://mindpoweracademy.com/
http://portalnlp.com/altered-state-of-consciousness-what-and-how/

Kesadaran dan Tingkatannya

A. Pengertian Kesadaran
Kesadaran merupakan kemampuan individu mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca inderanya) dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta terhadap dirinya sendiri (melalui perhatian).
Alam sadar adalah alam yang berisi hasil-hasil pengamatan kita kepada dunia luar.

B. Bentuk Kesadaran
Menurut Maramis bentuk-bentuk kesadaran yaitu:
1. Kesadaran normal
    Adalah suatu bentuk kesadaran yang ditandai individu sadar tentang diri dan lingkungannya sehingga daya
    ingat, perhatian dan orientasinya mencakup ruang, waktu dan orang dalam keadaan baik.
2. Kesadaran menurun
    Adalah suatu bentuk kesadaran yang berkurang secara keseluruhan, kemampuan persepsi, perhatian dan
    pemikiran.
3. Kesadaran meninggi
    Adalah suatu bentuk kesadaran dengan respon yang meninggi terhadap rangsang.
4. Kesadaran waktu tidur
    Adalah suatu bentuk kesadaran yang ditandai dengan menurunnya kesadaran secara reversibel, biasanya
    disertai posisi berbaring dan tidak bergerak.
5. Kesadaran waktu mimpi
6. Kesadaran waktu disosiasi
    Adalah suatu bentuk kesadaran ditandai dengan keadaan memisahkan sebagian tingkah laku atau kejadian
   dirinya secara psikologi dari kesadaran.
7. Trance
    Adalah keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas terhadap lingkungan yang biasanya mulai dengan
    mendadak.
8. Hipnotis
    Adalah kesadaran yang sengaja diubah melalui sugesti.
9. Kesadaran yang terganggu

C. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dibagi menjadi:
1. Komposmetis
    Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan  
    pemeriksa dengan baik.
2. Apatis
    Pasien tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya.
3. Delirium
    Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur-bangun yang terganggu. Pasien tampak 
    gaduh, gelisah, kacau, disorientasi dan meronta-ronta.
4. Somnolen (letargie)
    Keadaan mengantuk yang masih dapat pulih bila dirangsang, tapi bila rangsang berhenti, pasien akan tidur  
    kembali.
5. Sopor (Stupor)
    Keadaan mengantuk yang dalam. Bisa dibangunkan dengan rangsang kuat (rangsang nyeri), tapi pasien 
    tidak bangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban verbal dengan baik.
6. Semi koma
    Penurunan kesadaran yang tidak memberikan respon terhadap verbal, dan tidak dapat dibangunkan sama  
    sekali, tapi reflex (kornea, pupil) masih baik. Respon nyeri tidak kuat.
7. Koma
    Penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan spontan dan tidak ada respon terhadap 
    rangsang nyeri.


Sumber :
Buku Psikologi untuk Keperawatan, Drs. Sunaryo.M.Kes, hal. 78-79
http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/01/10/tingkat-kesadaran-dan-gcs/

Transedental Meditation

Meditasi Transedental adalah unsur yang dilupakan dalam pendidikan-unsur yang menyadarkan kita dari dalam dan yang sesungguhnya mampu membuat kita lebih cerdas.(Dalam buku Malas Tapi Sukses oleh Fred Gratzon hal. 314).


Meditasi Transedental yang telah tersebar luas ini dapat mengubah masyarakat dan setiap orang dapat hidup lebih sehat, makmur, mencapai kepuasan dan damai.(Dalam buku Malas Tapi Sukses oleh Fred Gratzon hal. 317).


Banyak bentuk meditasi populer di Amerika berasal dari filosofi Timur. Termasuk dalam kategori ini adalah Meditasi Zen dan Nam Sumran, atau meditasi Sikh. Mungkin yang paling luas dipraktikan di Amerika Serikat adalah meditasi transedental. Pelopornya, Maharishi Mahesh Yogi, mendefinisikan meditasi transedental sebagai mengalihkan perhatian ke tingkatpemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai sumber dari pemikiran. Prosedur dasar yang digunakan dalam meditasi transedental adalah sederhana, tapi efek yang diraihnya sangat dalam. Seseorang hanya perlu duduk dengan nyaman dengan mata tertutup dan mendengar pengulangan suara khusus (suatu mantra) selama sekitar 20 menit, dua kali sehari. studi menunjukan bahwa praktik meditasi transedental diasosiasikan dengan detak jantung yang menurun, konsumsi oksigen yang lebih rendah, dan penurunan tekanan darah.(Dalam buku Perilaku dan Manajemen Organisasi Edisi 7 Jilid 1 hal.318)

Tidak semua orang yang bermeditasi mengalami hasil yang positif. Akan tetapi sejumlah besar orang melaporkan meditasi sebagai hal yang efektif dalam mengola stres. Sejumlah organisasi telah mulai mendukung dan menyetujui program meditasi bagi karyawan. Diantaranya Coors Brewing, Monsanto Chemicals, Connecticut General Life Insurance Company dan U.S Army.(Dalam buku Perilaku dan Manajemen Organisasi Edisi 7 Jilid 1 hal.318)