Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan denga dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik, atau kematian. Kekuatan yang timbul dari kekuatan manusia.(Dalam buku Bunga Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa, Prof.Achir Yani S. Hamid, MN, DNSc, Penertbit buku Kedokteran,Jakarta, 2008,hal.2)
Ketika manusia mengalami orgasme maka ia akan mati sejenak dan jantungnya berhenti berdegup. Ini benar. Sains membuktikan. Kemudian kekuatan orgasme mampu menyalakan 10 lampu lebih karena energinya yang besar. Itulah kehidupan. Dari orgasme itulah kebahagiaan terjemput. Bahkan Osho mengatakan bahwa pengalaman spiritual bisa didapat karenanya. Di buku Danah Zohar (SQ) ada juga penyebab munculnya pengalaman spiritual karena coitus ekstasi. Pengalaman spiritual kaitannya dengan kebermaknaan hidup, yaitu barang siapa mendapatkan pengalaman spiritual dan mampu mengatasinya maka bermaknalah hidupnya.(Dalam buku Taman Sunyi Sekali, Aida Vyasa,Tiga serangkai,Solo,2006,hal 104)
Penulis menuliskan beberapa petikan kalimat yang ada di dalam buku Aku beriman, maka Aku Bertanya yang berisikan:
Memandang shalat terutama sebagai jalan untuk menggapai jaminannya dan pengalaman mistik berarti memahami Allah sebagai pelayanku dan makanya menyalahi fungsi pokok sholat.
Aku tentu saja mengaca diri untuk mengetahui apakah aku telah kehilangan kekhusyukan dalam sholatku, atau telah berbuat dosa, atau mengalami kemunduran iman. Adakalanya aku merasa memang itulah yang terjadi padaku, dan kemudian aku berusaha mengoreksi diri, tetapi kupikir kadang-kadang Allah sengaja membiarkanku begitu saja. Sehingga, aku terus berusaha menjalankan ritual-ritual Islam dengan tekun, memperbaiki diri, memetik banyak hikmah sholat dan menyerahkan urusan pengalaman spiritual kepada Allah, pemilik segala sesuatu. Aku berfikir bahwa sekalipun tak pernak merasakan pengalaman spiritual lagi dalam sisa hidupku, aku akan selalu bersyukur atas pengalaman-pengalaman spiritual yang sudah kutemui dan atas semua yang telah Allah karuniakan kepadaku. Pengalaman-pengalamanku yang paling dahsyat terjadi pada masa awal ketika aku baru menjadi muslim. Sungguh bodoh bila aku coba menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual ini, tetapi aku benar-benar yakin bahwa diriku takan bisa melewati masa-masa sulit tanpa kasih sayang Allah. Meskipun sepenuhnya percaya pada wahyu Al-Quran dan kenabian Muhammad, aku mungkin telah murtad jika tak mendapat dukungannya. Aku tak meragukan Islam, tetapi meragukan diriku sendiri. Aku tak yakin sanggup menghentikan perbuatan-perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaanku, dan aku berkali-kali merasa seperti lari komunitas alih-alih bersikap munafik di dalamnya. Namun, momen-momen saat aku menerima limpahan rahmatNya itu mengilhami untuk tetap tekun beribadah. Dengan perkataan lain, aku merasakan momen-momen spiritual ini lebih bertalian dengan kasih sayang Allah dan kekuranganku ketimbang yang lainnya.
Dan dalam buku Mengapai Impian penulis mengutip beberapa kalimat yang berisikan:
Rumi mengagumi matahari. Baginya matahari merupakan simbol keagungan Tuhan. Dia mengibaratkan dirinya laksana partikel debu yang berpendar mengelilingi sebuah titik. Titik itulah Tuhan, realitas eksistensial yang abadi dan yang tidak membutuhkan segala sesuatu. Dialah Sang Kekasih Sejati. Ketika bertemu Rumi menari-nari girang sambil bersenandung:
Sang kekasih memancarkan cahaya bak matahari
Laksana atom, para pecinta beredar mengelilinginya
Saat angin musim semi cinta mulai berhembus
Setiap ranting basah mengikuti matahari
Tarian Darwisy-sebuah tarian yang melambangkan spiritual cinta dengan gerakan meliuk-liuk disertai kegirangan yang meluap-luap tentu tidak mudah ditatap dengan nalar rasional. Nalar tak mungkin sanggup menembus relung-relung yang terdalam dan bergejolak. Pencarian nalar akan berakhir dengan kekandasan, nihil, dan boleh jadi kegilaan. Dunia spiritual adalah sebuah pengalaman yang sangat personal dan misterius. Maka alternatif yang memungkinkan adalah melompat kedunia lain, dunia rasa, ruang imajinasi, ruang intuisi, atau ruang hayal guna menembus realitas yang tak terbatas, tempat segala misteri irasional tersingkap.
Sumber:
Buku Taman Sunyi Sekali, Aida Vyasa,Tiga serangkai,Solo,2006,hal 104
Buku Aku Beriman maka Aku Bertanya, Jeffrey Lang, Serambi, Jakarta,2006, hal.300-301.
Buku Mengapai Impian, Masriyah Amva,Kompas, Jakarta, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar