A. Agama
Dalam masyarakat Indonesia selain kata agama, dikenal pula kata Din berasal dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa, sedang kata agama berasal dari bahasa Sanskrit.
Dalam kamus An English Reader's Dictionary,A.S Homby dan Parnwell (1986) mengartikan religi sebagai berikut:
- Belief in God as creator and control, of the universe (percaya kepada Tuhan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta).
- System of faith and worship based on such belief (Sistem iman dan penyembahan didasarkan atas kepercayaan tertentu).
Drs. Sidi Gazalba(1991) mendefinisikan Agama adalah kepercayaan pada hubungan manusia dengan yang Kudus, dihayati dengan hakikat yang ghaib, hubungan yang menyatakan diri dalam bentuk serta sistem kultus dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.
Kata Agama dalam bahasa Arab dan dalam Al-Qur'an disebut Din' yang diulang sebanyak 92 kali. Menurut asal usul kata (etimologi) mengandung pengertian menguasai, ketaatan dan balasan. Sedangkan menurut istilah atau terminologi din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, hukuum dan norma yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
Dari rumusan dan definisi diatas, dapat disimpulkan pengertian agama itu meliputi tiga sistem penting, yaitu:
1. Suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan
2. Suatu sistem penyembahan kepada Tuhan
3. Suatu sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal) dan hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal).
B. Psikologi Transpersonal
Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience, plateau, dan farthest reaches of human nature. Oleh karena itu, psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal.
Atas segala kritiknya terhadap angkatan-angkatan sebelumnya , psikologi transpersonal hanyalah kelanjutan dari psikologi humanistis, yang pada gilirannya melanjutkan pemikiran Junk dan Frankl. kita juga harus menyebut William James, yang dalam beberapa hal mempengaruhi pemikiran Jung. Psikologi tranpersonal berusaha menggabungkan tradisi psikologis dengan tradisi agama-agama besar di dunia. Dia ingin mengambil pelajaran dari kearifan perenial-philosophia perennis.
C. Hubungan Agama dan Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal secara langsung atau tidak berkaitan dengan perhatian yang diberikan oleh tradisi-tradisi mistik, dan psikologi transpersonal bekerja dengan sistem-sistem konseptual yang dimaksudkan untuk menjembatani dan mengintegrasikan psikologi dengan pencarian spiritual.
Psikologi transpersonal, seperti juga psikologi humanistik menaruh perhatian kepada potensi spiritual manusia yang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa yang sejauh ini tak mampu ditembus oleh aliran psikologi yang lain.
Yang membedakan antara psikologi transpersonal dengan psikologi humanistik adalah psikologi humanistik lebih menenkankan penggunaan potensi ini sebagai sarana untuk peningkatan hubungan antarmanusia, sedangkan psikologi transpersonal lebih menekankan penggunaannya sebagai pengalaman pribadi atau subjektif transedental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini.
Psikologi ini menandai "pertemuan" psikologi dengan agama yang selama ini dianggap sebagai hal yang terpisah. Barangkali inilah sumbangan terbesar yang diberikan oleh psikologi transpersonal bagi peradaban umat manusia.
Dalam "dunia" Islam kita juga dapat melihat bahwa ritual-ritual agama yang nota bene menjadi objek telaah psikologi ini juga mempunyai semacam energi untuk membantu kita mengurangi atau mengelola stres yang dianugerahkan Allah kepada kita.
Sumber:
Buku Pendidikan Agama Islam, Wahyudin Achmad, M.Ilyas, M. Saifulloh, Z. Muhibbin, Grafindo, Surabaya, 2009, hal.12-13.
Buku SQ Kecerdasan Spiritual, Danah Zohar dan Ian Marshall, Mizan Media Utama, Bandung.
Buku Metode Supernol Menaklukan Stres, Mustamir Pedak, hikamh, hal.31.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar